Logo
images

HUT Pangkalpinang 267, Akhmad Elvian Terima Sertifikat Tenaga Ahli Sejarah dan Budaya

Beritalain.id - PANGKALPINANG.  Peneliti Sejarah dan Kebudayaan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dato' Akhmad Elvian DPMP,CECH mendapatkan Sertifikat Mandat Sebagai Tenaga Ahli Sejarah dan Budaya Untuk Membantu Pemerintah Kota Pangkalpinang Dalam Pemajuan kebudayaan di Kota Pangkalpinang.

Sertifkat juga diberikan atas dedikasi sekaligus memperkuat atas pencapaian prestasi dalam pelestarian sejarah dan budaya Bangka Belitung yang telah dilakukan oleh sang Peraih Anugerah Kebudayaan Indonesia Kategori Pelestari dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2018 tersebut.
Akhmad Elvian yang kini juga menjabat sebagai Sekretaris DPRD Kota Pangkalpinang ini memang sudah lama berkecimpung membantu Pemerintah Kota Pangkalpinang dalam pemajuan kebudayaan dan cagar budaya di Kota Pangkalpinang.

Sehingga tepat di tanggal 17 September 2024 yang juga merupakan puncak peringatan Hari Jadi ke-267 Pangkalpinang, Dato' Akhmad Elvian, DPMP, CECH resmi mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Kota Pangkalpinang, yang diserahkan langsung oleh Pejabat (Pj) Walikota Pangkalpinang, Budi Utama.
Disela-sela acara silahturahmi bersama Forum Wartawan Bangka Belitung (FKWB) belum lama ini, Akhmad Elvian menceritakan bahwa sertifikat mandat yang diberikan oleh Pemerintah Kota Pangkalpinang tersebut adalah dalam rangka untuk membantu Pemerintah Kota Pangkalpinang dalam rangka pemajuan 10 objek pemajuan kebudayaan dan cagar budaya di Kota Pangkalpinang.

“Terimakasih atas penghargaan yang diberikan Pemerintah Kota Pangkalpinang, semoga saya lebih yakin dan lebih bersemangat lagi membantu Pemerintah Kota Pangkalpinang dalam konteks pengembangan sejarah dan budaya di Kota Pangkalpinang,” ujarnya.

Karena menurut Akhmad Elvian yang sebelumnya juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kota Pangkalpinang ini, berbagai upaya berkelanjutan dalam bidang pemajuan kebudayaan dan sejarah ini sangatlah penting, karena Pangkalpinang sedang menuju menjadi kota metropolis.

“Sehingga diharapkan dengan menjadi kota metropolis, maka masyarakat Pangkalpinang juga semakin mampu menjaga dan merawat warisan sejarah dan budaya yang dimilikinya, yakni menjadi masyarakat perkotaan yang berbudaya yang tetap menjaga adab, sopan santun, perilaku dan budaya gotong royong serta menjaga kearifan-kearifan lokalnya, walaupun kotanya sudah maju dan modern,” tambah pria yang telah menulis dan menghasilkan puluhan buku ini.

Diakui juga oleh pria yang juga pernah menjadi Kepala Sekolah ternama disalah satu SMA di Kota Sungailiat ini, bahwa kini dirinya juga diminta ikut membantu pemajuan kebudayaan dan sejarah di sejumlah kabupaten lainnya seperti Kabupaten Bangka Selatan, Bangka Tengah dan Bangka Barat.
Pria kelahiran Pangkalpinang 14 Oktober 1965 ini juga berharap sekaligus mengajak kepada semua element masyarakat dan pemangku kebijakan di Kota Pangkalpinang untuk bersama-sama membangun Kota Pangkalpinang agar lebih maju, tanpa menghilangkan akar sejarah dan budaya masyarakatnya, walaupun kotanya maju dan modern, tetapi tetap menjadi masyarakat yang berbudaya dengan menjaga kearifan-kearifan lokal yang menjadi ciri khasnya.

Ia menilai, bahwa Kota Pangkalpinang merupakan daerah berkembang yang juga memiliki banyak situs-situs sejarah dan budaya yang sebetulnya bisa dikembangkan. Misalnya di Jalan Balai Pangkalpinang ada yang namanya Balai Gemeente (Haminte) Pangkalpinang.

Balai Haminte ini pernah menjadi bukti abadi terjadinya peristiwa pada tanggal 5-6 Juli 1949, dimana Presiden Soekarno pernah berpidato dihadapan 3000 rakyat Bangka sebelum kembali ke Yogyakarta setelah diasingkan oleh Belanda di Menumbing dan Mentok Bangka Barat. Pada saat itu, Rakyat Bangka juga menyerahkan sumbangan sebesar 90.000 Golden lebih untuk pembangunan ibukota Republik Indonesia di Yogyakarta.

“Itu merupakan simpul sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan, yakni dari Jakarta ke Yogyakarta kemudian ke Bangka, dari Bangka kembali ke Yogyakarta. Sehingga ada 197 hari atau yang saya sebut exile government, dimana para pemimpin republik pada saat itu menjalankan roda pemerintahan republik ini dari pengasingan di Bangka, dan Pangkalpinang menjadi salah satu kota di samping Kota Mentok sebagai pusat-pusat percaturan diplomasi politik internasional pada waktu itu,” jelasnya.

Akhmad Elvian juga mengaku sudah bertemu dan menyarankan kepada Pj.Walikota Pangkalpinang, bahwa dengan kondisi keuangan daerah saat ini, yang belum cukup untuk mengembangkan exs Balai Haminte Pangkalpinang, agar dibuatkan semacam lomba design pembangunan taman dan monument tugu Pangkal Kemenangan di lokasi eks Balai Haminte tersebut, yang menyambung dengan 2 tugu atau 2 monumen nasional yang sudah ada lainnya.

Yakni Monas di Jakarta sebagai representasi Proklamasi 17 Agustus 1945 yang, kemudian ibukota pindah ke Yogyakarta pada Juni 1946, selanjutnya pada 22 Desember 1948 pemimpin republik diasingkan ke Bangka hingga 6 Juli 1949. Di Yogyakarta saat ini sudah dibuat Monumen Yogya Kembali atau Monjali yang artinya kembali dari Pangkalpinang.

“Melalui lomba design tersebut diharapkan bisa menghasilkan karya design yang visible dan bernilai sejarah dan untuk ke depan dapat direaliasikan dan dibangun sebagai Monumen Pangkal Kemenangan. Sehingga nanti simpul Monumen Nasional (Monas), Monumen Yogya Kembali (Monjali) dan Monumen Pangkal Kemenangan itu akan menjadi cita-cita bersama yang dapat terwujudkan,” harapnya.
Dengan usia Pangkalpinang yang kini sudah mencapai 267 tahun, maka diharapkan dapat terus meningkatkan kesadaran dan motivasi masyarakat bahwa usia Pangkalpinang kini sudah cukup tua, namun cita-cita para pendiri dan leluhur kota, agar Pangkalpinang terus maju dan berkembang menuju kejayaannya. Tidak boleh menjadi kota mati atau nekropolis tapi menjadi kota metropolis,” ujar kakak kandung dari Pj.Bupati Belitung Timur, Mikron Antariksa ini.

Disadari oleh Akhmad Elvian, bahwa dalam konteks menuju Kota Pangkalpinang sebagai kota metropolis tentunya akan banyak tantangan, hambatan yang akan dihadapi bersama, namun juga selalu ada peluang yang bisa dilakukan oleh masyarakat bersama Pemerintah kota Pangkalpinang demi Pangkalpinang semakin maju dan sejahtera.

“Kita berharap Pangkalpinang akan tetap abadi, kemudian juga mampu melanjutkan tradisinya sebagai kota pusat perdagangan dan jasa, pusat distrik dan pusat pemerintahan. Semua ini, harus senatiasa dapat terjaga dan tetap kita pelihara dan pertahankan, agar jangan sampai nanti kota kita crowdedness, tidak tertata dan terkelola dengan baik, karena bisa jadi ibukota provinsi dipindahkan orang dari Pangkalpinang, sehingga ini yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya warisan-warisan sejarah, Kota Pangkalpinang, ”harap sosok pria bibliofilisme (penggemar buku) ini.



Dipost Oleh Ara

Selamat membaca di situs kami.

Tinggalkan Komentar