BERITALAIN.ID, Berita Terkini Sungailiat - Warga Kenanga, Kabupaten Bangka keluhkan bau limbah pabrik taipoka milik PT Bangka Asindo Agri (PT BAA).
Terkait hal ini, warga Kenanga kembali memasang baliho dan spanduk yang berisi kritikan untuk Pemkab Bangka yang tidak bisa menghentikan operasional PT Bangka Asindo Agri (PT BAA) tersebut. Diketahui perusahaan tapioka tersebut sudah beberapa tahun ini membuat polemik di tengah masyarakat sekitar, karena bau limbah yang menyengat.
Warga sekitar, Heti mengatakan aksi pemasangan baliho dan spanduk tersebut merupakan bentuk kekecewaan masyarakat Kenanga karena harus mencium bau pekat limbah tiap hari.
"Ini bentuk aksi kami karena tidak mungkin kami melakukan aksi masa di kondisi seperti sekarang (pandemi Covid-19). Kalau tidak, mungkin kami sudah turun ke jalan," ungkapnya, Rabu (6/5/2020).
Baliho dan spanduk yang dipasang di beberapa titik sepanjang kelurahan Kenanga tersebut merupakan sumbangan sukarela dari masyarakat Kenanga sendiri.
"Dana untuk buat balihonya ini sumbangan sukarela warga, ada yang 100 ribu, 50 hingga 10 ribu jadi tidak ada paksaan. Memang tidak seratus persen warga mendukung karena ada yang bekerja di sana tapi hanya beberapa saja," tambah Heti.
Ketua RT 07 itu juga mengatakan bau limbah dari PT BAA tersebut hampir tiap hari terjadi terlebih lagi saat habis hujan dan pagi hari.
"Sampai pagi hari ini tadi masih ada baunya, lebih bau lagi saat subuh. Padahal ini bulan puasa, bukannya tenang tapi malah bau gini," sesalnya.
Baca Juga : Dewan: Pemerintah Bateng Lamban Salurkan Bantuan Covid Untuk Masyarkat Terdampak
Sebelumnya pihaknya sudah pernah berkoordinasi dengan pihak provinsi mengenai hal tersebut dan membubuhkan lebih dari dua ribu tanda tangan warga tapi tidak ada hasilnya.

"Pihak provinsi tidak bisa berbuat banyak karena izin lingkungannya ada diranah kabupaten, tapi sampai saat ini juga Kabupaten Bangka belum juga mencabut izinnya padahal mereka sudah menurunkan tim independen," terang Heti.
Warga juga khawatir dengan keberadaan PT BAA tersebut dapat mempengaruhi kualitas air tanah mereka karena tempat pembuangan limbahnya hanya dilapisi plastik.
"Pernah sampel air dibawa ke kelurahan untuk di cek tapi hasilnya sampai sekarang kita tidak tahu soalnya ada yang mengeluh gatal-gatal, kita takutkan karena air warga sudah terkena dampak limbah juga," ungkapnya.



